Back to Blog

Karyawan LaundrySDM LaundryBisnis LaundryOperator LaundryTraining LaundrySOP LaundryCustomer Service LaundryManajemen Laundry
Kriteria Memilih Karyawan Laundry: Skill Teknis atau Sikap Melayani?
Ken Maharani Putri Kinanti - Planet Laundry|1 Oktober 2026
Dalam bisnis laundry, karyawan tidak hanya membutuhkan skill teknis. Kejujuran, ketelitian, sikap melayani, kemauan belajar, dan kedisiplinan justru menjadi dasar penting dalam membangun tim yang dapat dipercaya.
Selama bertahun-tahun mendampingi para pemilik usaha laundry, saya sering mendapat pertanyaan:
“Sebaiknya cari karyawan yang sudah berpengalaman, atau yang penting mau belajar?”
Jawaban jujur saya: skill bisa dilatih, tetapi sikap jauh lebih sulit diubah.
Menurut pengalaman kami dalam mendampingi mitra, karyawan yang paling bermasalah bukan selalu mereka yang kurang pintar mengoperasikan mesin. Sering kali, masalah justru muncul karena kurang teliti, kurang jujur, kurang disiplin, atau kurang peduli terhadap pelanggan.
Karena itu, ketika mencari karyawan laundry, jangan hanya melihat pengalaman kerja atau kemampuan teknis. Ada beberapa karakter yang justru perlu menjadi pertimbangan utama.
1. Kejujuran dan Integritas
Laundry adalah bisnis yang dibangun dari kepercayaan.
Karyawan memegang pakaian pelanggan dan, pada sebagian outlet, juga berhubungan dengan uang atau akses ke sistem transaksi.
Karena itu, kejujuran menjadi salah satu kriteria paling penting.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan saat proses seleksi antara lain:
- Riwayat kerja yang dapat dikonfirmasi melalui referensi.
- Jawaban yang konsisten saat wawancara.
- Sikap terbuka ketika menceritakan pengalaman atau kesalahan di pekerjaan sebelumnya.
Sebaliknya, perlu diperhatikan jika kandidat memberikan cerita yang berubah-ubah, selalu menyalahkan mantan atasan, atau enggan memberikan kontak referensi.
Bukan berarti hal tersebut otomatis menunjukkan kandidat tidak baik, tetapi bisa menjadi bahan pertimbangan lebih lanjut dalam proses seleksi.
2. Ketelitian dan Kedisiplinan
Pakaian tertukar, noda terlewat, atau mesin lupa dimatikan sering kali bukan karena operator tidak memiliki skill, tetapi karena kurang teliti dan disiplin dalam menjalankan proses kerja.
Ketelitian dapat diuji bahkan sebelum seseorang mulai bekerja.
Misalnya, berikan tugas sederhana saat proses seleksi seperti mengelompokkan beberapa pakaian berdasarkan warna dan jenis kain, atau mencocokkan nota dengan tumpukan cucian.
Perhatikan bagaimana kandidat mengerjakan tugas tersebut.
Apakah ia memeriksa kembali pekerjaannya?
Apakah ia mengikuti instruksi?
Atau justru terburu-buru menyelesaikan tugas tanpa memastikan hasilnya?
Hal-hal sederhana seperti ini dapat memberikan gambaran mengenai kebiasaan kerja seseorang.
3. Sikap Melayani dan Kemampuan Berkomunikasi
Pelanggan laundry sering datang dengan berbagai kekhawatiran.
“Baju saya luntur nggak?”
“Kok laundry saya belum selesai?”
“Kenapa noda ini masih ada?”
Dalam situasi seperti itu, kemampuan karyawan berkomunikasi menjadi sangat penting.
Karyawan yang ramah, tenang, dan mampu mendengarkan pelanggan dapat membantu menjaga hubungan dengan customer, terutama ketika terjadi masalah.
Salah satu cara mengujinya adalah dengan memberikan simulasi kasus.
Misalnya:
“Pelanggan marah karena baju favoritnya masih memiliki noda setelah dicuci. Apa yang akan Anda lakukan?”
Jawaban yang baik biasanya dimulai dengan mendengarkan keluhan, menunjukkan empati, meminta maaf jika memang diperlukan, kemudian mencari solusi.
Bukan langsung membela diri atau menyalahkan pelanggan.
4. Kemauan Belajar Teknologi
Operasional laundry semakin berkembang.
Pada laundry modern, terutama yang menggunakan sistem self-service, QRIS, aplikasi, atau dashboard tertentu, karyawan perlu terbiasa menggunakan perangkat digital.
Kandidat tidak harus langsung ahli.
Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan:
- Apakah kandidat terbiasa menggunakan smartphone dan aplikasi?
- Apakah ia mau bertanya ketika belum memahami sesuatu?
- Apakah ia antusias mencoba hal baru?
- Apakah ia mau mengikuti arahan dan prosedur yang diberikan?
Karyawan yang belum memiliki skill tertentu masih dapat dilatih selama memiliki kemauan belajar.
5. Kondisi Fisik dan Kesiapan Kerja
Pekerjaan laundry juga memiliki tuntutan fisik.
Karyawan dapat mengangkat cucian, berdiri dalam waktu yang cukup lama, serta bekerja di lingkungan yang memiliki panas dan kelembapan tertentu.
Karena itu, gambaran mengenai pekerjaan sebaiknya disampaikan secara jujur sejak awal.
Tujuannya agar kandidat memahami kondisi pekerjaan sebelum bergabung dan tidak merasa mendapatkan pekerjaan yang berbeda dari ekspektasi awal.
6. Kesesuaian Jadwal dan Komitmen
Laundry sering kali beroperasi pada akhir pekan dan memiliki jam sibuk tertentu, termasuk sore atau malam.
Karena itu, pastikan kandidat memahami pola kerja dan sistem shift yang berlaku.
Jangan hanya memastikan apakah kandidat bisa mulai bekerja.
Pastikan juga apakah jadwal tersebut sesuai dengan kondisi dan komitmennya.
Skill Teknis: Seberapa Penting?
Pengalaman teknis tentu tetap menjadi nilai tambah.
Terutama untuk posisi yang membutuhkan kemampuan khusus seperti penanganan noda, penggunaan mesin tertentu, atau perawatan mesin dasar.
Namun, untuk posisi operator, kami lebih memilih kandidat yang memiliki sikap baik dan kemauan belajar, kemudian membentuk kemampuan teknisnya melalui SOP dan pelatihan.
Dengan begitu, seluruh karyawan dapat memiliki standar kerja yang sama.
Karena karyawan yang sudah berpengalaman pun belum tentu memiliki cara kerja yang sesuai dengan standar outlet Anda.
Alur Seleksi Sederhana yang Bisa Diterapkan
Proses rekrutmen tidak harus rumit.
Pemilik laundry dapat membuat alur sederhana seperti berikut:
1. Seleksi berkas dan wawancara singkat.
Gali motivasi, pengalaman, dan riwayat kerja kandidat.
2. Simulasi kasus.
Uji bagaimana kandidat berkomunikasi dan menghadapi keluhan pelanggan.
3. Tes praktik singkat.
Uji ketelitian dan kemampuan mengikuti instruksi.
4. Masa percobaan terstruktur.
Berikan target dan lakukan evaluasi secara jelas pada 2 sampai 4 minggu pertama.
5. Pelatihan SOP.
Pastikan karyawan baru mendapatkan standar kerja yang sama sebelum menjalankan pekerjaan secara mandiri.
Dengan proses tersebut, keputusan merekrut tidak hanya berdasarkan kesan saat wawancara.
Kesalahan Umum Pemilik Laundry Saat Merekrut
Ada beberapa kesalahan yang cukup sering dilakukan ketika mencari karyawan.
Pertama, memilih hanya karena kandidat meminta gaji paling rendah.
Kedua, merekrut karena hubungan pertemanan atau rasa sungkan tanpa melakukan proses seleksi.
Ketiga, tidak memberikan pelatihan karena menganggap karyawan yang sudah berpengalaman pasti dapat bekerja dengan benar.
Keempat, tidak menjelaskan beban kerja dan jadwal kerja sejak awal.
Padahal, proses rekrutmen yang baik bukan hanya tentang mencari orang untuk mengisi posisi kosong.
Tujuannya adalah mencari orang yang sesuai dengan kebutuhan bisnis dan dapat berkembang bersama perusahaan.
Karyawan yang Tepat Tidak Harus yang Paling Berpengalaman
Pada akhirnya, karyawan yang tepat bukan selalu orang yang paling pintar di atas kertas.
Untuk bisnis laundry, kejujuran, ketelitian, kedisiplinan, kemauan belajar, dan kepedulian terhadap pelanggan merupakan fondasi yang sangat penting.
Skill teknis dapat dibentuk melalui SOP, training, praktik, dan pengalaman.
Tetapi membentuk sikap dan karakter seseorang membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apakah kandidat ini sudah bisa mengoperasikan mesin?”
Coba tanyakan juga:
“Apakah saya bisa mempercayakan pakaian pelanggan kepada orang ini?”
“Apakah dia mau belajar?”
“Apakah dia cukup teliti?”
“Bagaimana cara dia menghadapi pelanggan ketika terjadi masalah?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu owner melihat kandidat secara lebih menyeluruh.
Penutup
Membangun tim laundry yang baik bukan hanya tentang memiliki orang yang mampu mengoperasikan mesin.
Tim yang kuat adalah tim yang memahami tanggung jawabnya, mampu mengikuti SOP, teliti dalam bekerja, mau belajar, dan tetap memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan.
Karena pada akhirnya, kualitas sebuah laundry tidak hanya ditentukan oleh mesin yang digunakan, tetapi juga oleh orang-orang yang menjalankan sistem tersebut setiap hari.
Jika Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana membangun laundry yang tetap berjalan meskipun owner tidak selalu berada di outlet, Anda juga dapat membaca artikel Planet Laundry Mart sebelumnya:
“Kalau Owner Tidak Ada, Apakah Laundry Tetap Bisa Berjalan?”
Karena setelah mendapatkan karyawan yang tepat, tantangan berikutnya adalah membangun sistem kerja yang membuat mereka mampu bekerja secara mandiri dan konsisten.
Butuh bantuan dalam mempersiapkan bisnis laundry, mulai dari pemilihan mesin, sistem operasional, hingga pembekalan operator?
Tim Planet Laundry siap membantu mempersiapkan bisnis laundry Anda agar tidak hanya siap dibuka, tetapi juga siap dijalankan dan dikembangkan.
Start Your Business Journey
Partner with Planet Laundry for modern, scalable laundry solutions.
Hubungi Kami